Friday, 17 May 2013

Budaya Membaca, Budaya Merdeka

Jika kita mampir ke Inggris, bertanyalah secara iseng kepada seorang office boy tentang siapa yang menjadi penulis favoritnya, niscaya ia bisa langsung menyebutkan nama penulis favoritnya, entah penulis fiksi ataupun non-fiksi, sebelum kita sempat memikirkan pertanyaan berikutnya. Sebegitu besarnya kecintaan orang Inggris terhadap budaya membaca sehingga para penulisnya pun sangat dihargai. Wajar saja jika seorang penulis macam J.K. Rowling ternyata kini lebih kaya raya dibandingkan Ratu Inggris.

Bagaimana dengan minat membaca di Indonesia? Menurut survey UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), minat membaca di Indonesia ternyata menempati peringkat terendah di ASEAN. Indeksnya hanya mencapai 0,001 atau hanya ada satu orang pembaca di antara seribu orang. Hal ini sungguh tragis mengingat jumlah penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 250 juta jiwa. Minat membaca yang kurang merupakan bukti bahwa kebudayaan membaca di Indonesia masih lemah. Bahkan, Remy Sylado, penulis, mengatakan bahwa budaya kita masih budaya oral (budaya ngomong). Sindiran ini menandakan bahwa kita lebih sering hanya bicara dalam menyelesaikan persoalaan padahal dengan membaca kita sudah melakukan analisa kritis terhadap persoalan yang ingin kita selesaikan.

Kurangnya minat membaca dipengaruhi oleh salah satunya anggapan bahwa membaca cenderung membuang-buang waktu dan bukan kegiatan yang produktif jika kata ‘produktif’ di sini diartikan dengan mampu menghasilkan uang. Ironisnya kita yang setuju dengan anggapan tersebut ternyata lebih sering mengutak-atik gadget atau seharian di depan stasiun televisi. Tak mungkin suatu bangsa menjadi bangsa yang memiliki peradaban yang besar jika tidak membaca. Hal ini disetujui oleh Octavio Paz yang dalam pidato penerimaan nobel satra tahun 1990 ia berkali-kali menegaskan bahwasanya membaca adalah kegiatan melawan pemborosan waktu.

Membaca adalah belajar. Dengan membaca kita memasuki dunia yang baru. Membaca sebuah cerita membuat kita merasakan bagaimana menjalani hidup seperti tokoh-tokoh yang diceritakan dan membuat kita mampu bersikap kritis dalam memberikan makna terhadap kehidupan kita sendiri. Lebih jauh lagi, membaca membuat kita belajar bertoleransi dan menerima perbedaan sehingga kita dapat menghindari konflik dengan saling memahami. Dari sudut pandang Islam, ayat pertama yang turun kepada Muhammad adalah Iqra, yang berarti ‘bacalah!’ Karena membaca adalah aktifitas berpikir yang membuat kita memahami realitas dan tahu bagaimana harus bertindak di dalam realitas.

Pada novel The Reader karya Bernhard Schlink, yang sudah difilmkan dengan judul yang sama, dikisahkan tokoh bernama Frau Schmitz, yang dipanggil Hanna, yang menyembunyikan ketidakmampuannya membaca dan menulis karena ia malu. Karena ia bersikeras menutupinya ia pun akhirnya terlibat dalam masalah yang besar. Ia bahkan rela dipenjara atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan daripada mengakui bahwa ia buta aksara. Namun, pada akhirnya ia sadar dan menghabiskan tahun-tahunnya dipenjara dengan belajar membaca. Dalam novel itu tertulis kutipan yang menarik yang bunyinya:

“Buta huruf adalah ketergantungan. Dengan menemukan keberanian belajar membaca dan menulis, Hanna telah melangkah maju dari ketergantungan dan menuju kemandirian, suatu langkah menuju kemerdekaan.”

Hanna memang menghabiskan hidupnya di penjara namun baginya ketidakmampuannya untuk membaca adalah penjara yang sesungguhnya. Lalu kita yang lebih beruntung dibandingkan Hanna karena sudah diajarkan cara membaca, maukah kita terus membaca atau kita lebih senang di dalam penjara? (L)